<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
		<title>Simple is Safe</title>
		<link>https://respati.at.ua/</link>
		<description></description>
		<lastBuildDate>Wed, 13 May 2009 03:56:41 GMT</lastBuildDate>
		<generator>uCoz Web-Service</generator>
		<atom:link href="https://respati.at.ua/news/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
		
		<item>
			<title>Yang Lama Kita Pahami, Yang Kini Kita Mengerti, Kedepan Kita Sikapi</title>
			<description>Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA. Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gusti Allah. &lt;p&gt; Upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara semua makhluk yang tergelar di jagad raya, yang notabene adalah makhluk, telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak pernah ...</description>
			<content:encoded>Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA. Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gusti Allah. &lt;p&gt; Upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara semua makhluk yang tergelar di jagad raya, yang notabene adalah makhluk, telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana dan mau kemana (sangkan paraning dumadi) perjalanan semua makhluk terus menggelinding dari jaman ke jaman sejak adanya &quot;ada&quot;. Pertanyaan yang amat sederhana tetapi substansiil tersebut, ternyata mendapatkan jawaban yang justru merupakan pertanyaan-pertanyaan baru dan sangat beragam, bergantung dari kualitas sang penanya. Perkembangan kecerdasan dan kesadaran manusia telah membentuk budaya pencarian yang tiada henti. Apalagi setelah muncul kesadaran religius yang mempertanyakan &quot;apa atau siapa yang membuat ada&quot; semakin menggiring manusia ke dalam petualangan meraba-raba di kegelapan rimba raya pengetahuan. Di dalam kegelapan itulah benturan demi benturan akibat perbedaan pemahaman terjadi. Benturan paling purba berawal dari kisah Adam dan Hawa yang melemparkan mereka dari surga. Benturan terkadang teramat dahsyat sehingga &quot;perlu&quot; genangan darah dan air mata, yang dipelopori oleh Habil dan Qabil. &lt;p&gt; Kesemuanya bermuara pada kata sakti yang bernama &quot;kebenaran&quot; yang sungguh sangat abstrak dan absurd. Tetapi bukankah hidup dan kehidupan ini abstrak dan absurd? sehingga tak terjabarkan oleh akal-pikir yang paling canggih sekalipun. Ketika akal-pikir tak lagi mampu menjawab pertanyaan diatas, manusia mulai menggali jawaban dari &quot;rasa&quot; sampai akhirnya manusia merasa seolah-olah telah menemukan apa yang dicari. Tetapi ketika pengembaraan rasa tersebut sampai pada titik simpang, dimana di satu sisi muncul kebutuhan untuk melembagakan hasil &quot;temuan rasa&quot; tersebut dan di sisi lain menolak pelembagaan, kembali terjadi benturan-benturan yang sesungguhnya sangat tidak perlu terjadi. Sesuatu yang tidak akan pernah diketahui, baik dengan akal-pikir dan rasa, bahkan intuisi sekalipun. Sebab &quot;dia&quot; adalah Sang Maha Gaib. Rumusan apapun tentang &quot;dia&quot; seperti apa yang telah dilakukan oleh manusia pasti akan menemui kegagalan. Karena &quot;dia&quot; tidak pernah merumuskan &quot;dirinya&quot; secara kongkrit, kecuali dalam bentuk simbol-simbol dan lambang-lambang yang metaforik. Perjalanan panjang manusia yang menempuh jarak jutaan tahun untuk mendapatkan jawaban pasti tentang &quot;dia&quot; menjadi amat bervariasi. Tetapi kepastian itu sendiri tidak pernah dijumpai. Sehingga sebagian manusia menjadi putus asa, karena perjalanan pencariannya tak ubahnya seperti tragedi Syshipus, sebuah perjalanan kehilangan. &lt;br /&gt; Sementara untuk sebagian manusia lainnya, semangat pencariannya justru semakin menggebu. Mereka tidak pernah patah, karena mereka tidak terpukau oleh hasil akhir. Telah muncul kesadaran baru pada mereka, bahwa yang terpenting adalah proses pencarian itu sendiri. Bertemu atau tidak bukan lagi menjadi pangkal kerisauan, karena mereka menyadari, bahwa keputusan tidak berada di tangan manusia. Nah mereka inilah para pejalan spiritual, sang pencari sejati yang selalu haus pada pengalaman empiris di belantara pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak, absurd dan gaib. Dan mereka adalah kita. Syarat utama bagi para pejalan spiritual adalah kebersediaannya dan kemampuannya menghilangkan atau menyimpan untuk sementara pemahaman dogmatis yang telah dimilikinya, dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati dan pikiran untuk merambah jagad ilmu pengetahuan (kawruh) non-ragawi. Ilmu yang gawat dan wingit, karena sifatnya sangat mempribadi dan tidak bisa diseragamkan dengan idiom-idiom yang ada, dimana idiom-idiom itu hanya bisa dipergunakan sebagai rambu penunjuk yang kebenarannya juga sangat relative. Pengalaman spiritual adalah pengalaman yang sangat unik dan sangat individual sifatnya, sehingga kaidah-kaidah yang paling dogmatispun tak akan mampu memberikan hasil yang sama bagi individu yang berbeda. &lt;p&gt; Perjalanan spiritual adalah proses panning upaya manusia untuk pencapaian tataran-kahanan (strata, maqom) pembebasan, yaitu kebebasan untuk merdeka (freedom to be free) dari segala bentuk keterikatan dan kemelekatan serta kepemilikan yang membelenggu, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, seprti dijalani oleh para penuntun spiritual dimasa lampau. Jika persyaratan diatas sudah disepakati, barulah terasa ada perlunya perjalanan wisata spiritual yang baru saja kita lakukan. Jika terjadi pengalaman mistis bagi satu atau beberapa orang, harus disikapi sebagai pengalaman yang bersifat &quot;sangat individual&quot; yang tidak bisa diseragamkan. &lt;p&gt; &lt;b&gt;Kautamaning Laku&lt;/b&gt; &lt;br /&gt; Wong eling ing ngelmu sarak dalil sinung kamurahaning Pangeran. Wong amrih rahayuning sesaminira, sinung ayating Pangeran. Angrawuhana ngelmu gaib, nanging aja tingal ngelmu sarak, iku paraboting urip kang utama. Aja kurang pamariksanira lan den agung pangapunira. Agawe kabecikan marang sesaminira tumitah, agawea sukaning manahe sesamaning jalma. Aja duwe rumangsa bener sarta becik, rumangsa ala sarta luput, den agung, panalangsanira ing Pangeran Kang Maha Mulya, lamun sira ngrasa bener lawan becik, ginantungan bebenduning Pangeran. Angenakena sarira, angayem-ayema nalarira, aja anggrangsang samubarang kang sinedya, den prayitna barang karya. Elinga marang Kang Murbeng Jagad, aja pegat rina lan wengi. Atapaa geniara, tegese den teguh yen krungu ujar ala. Atapaa banyuara, tegese ngeli, basa ngeli iku nurut saujaring liyan, datan nyulayani. Tapa ngluwat, tegese mendhem atine aja ngatonake kabecikane dhewe. Aprang Sabilillah, tegese prang sabil iku, sajroning jajanira priyangga ana prang Bratayudha, prang ati ala lan ati becik.</content:encoded>
			<link>https://respati.at.ua/news/2009-05-13-7</link>
			<dc:creator>respati</dc:creator>
			<guid>https://respati.at.ua/news/2009-05-13-7</guid>
			<pubDate>Wed, 13 May 2009 03:56:41 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Announcement</title>
			<description>&lt;P&gt;Hi All, &lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;U can select &lt;A href=&quot;http://respati.at.ua/publ/&quot;&gt;Article &lt;/A&gt;to read my article, because all that I wrote was there. Want to see me? please click on &lt;A href=&quot;http://respati.at.ua/photo/&quot;&gt;Photo Albums&lt;/A&gt;. And u free to surf on my weblog. Just read &amp;amp; click.&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;Ok, that&apos;s all. Don&apos;t forget to leave a comment or filled up &lt;A href=&quot;http://respati.at.ua/gb/&quot;&gt;Guestbook&lt;/A&gt; to say thank to me, will you?&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;(Sorry about my poor English, but however, it&apos;s better than mouse...)&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;Many thank&apos;s&lt;/P&gt;</description>
			<content:encoded>&lt;P&gt;Hi All, &lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;U can select &lt;A href=&quot;http://respati.at.ua/publ/&quot;&gt;Article &lt;/A&gt;to read my article, because all that I wrote was there. Want to see me? please click on &lt;A href=&quot;http://respati.at.ua/photo/&quot;&gt;Photo Albums&lt;/A&gt;. And u free to surf on my weblog. Just read &amp;amp; click.&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;Ok, that&apos;s all. Don&apos;t forget to leave a comment or filled up &lt;A href=&quot;http://respati.at.ua/gb/&quot;&gt;Guestbook&lt;/A&gt; to say thank to me, will you?&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;(Sorry about my poor English, but however, it&apos;s better than mouse...)&lt;/P&gt; &lt;br /&gt; &lt;P&gt;Many thank&apos;s&lt;/P&gt;</content:encoded>
			<link>https://respati.at.ua/news/2008-12-15-6</link>
			<dc:creator>respati</dc:creator>
			<guid>https://respati.at.ua/news/2008-12-15-6</guid>
			<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 02:41:41 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Preambule</title>
			<description>Ah, ke-aku-an itu tak begitu penting. Seperti temanku bilang “dengan ketulusan hati dan kebersihan jiwa” maka semua yang kita inginkan dan lakukan akan membuahkan hasil. Tapi bagaimana bisa terwujud walau niat sudah 80 %, doapun sudah 15 %, sedang yang tak kalah pentingnya justru usaha malah cuma 5 %. Itupun masih diselingi mampir ke warung ayu…?? Malah banyak ke warung daripada usaha mengais rejeki sekedar untuk beli kecap. Apalagi kalau udah ketemu WA (Warung Ayu) dimana rata-rata simbak penjualnya masih bisa dikatakan (kera Ngalam bilang) kodew e komes, kopi seribu rupiah bisa sampe lima-enam jam baru habis. Itu salah satu kenyataan yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa ditolak. &lt;p&gt; Sebenarnya apa sih inti dari crito ini? Jawabannya tidak ada. Cuma sekedar iseng ngetik sambil dengerin lagu-lagu rock klasik era 80-90an. Bagaimana tidak? Terlahir dari keluarga menengah kesamping pada hari Kamis Pahing malam Jumat Pon tanggal 21 Mei 1981 kurang lebih pukul 18.00 dengan berat dan bent...</description>
			<content:encoded>Ah, ke-aku-an itu tak begitu penting. Seperti temanku bilang “dengan ketulusan hati dan kebersihan jiwa” maka semua yang kita inginkan dan lakukan akan membuahkan hasil. Tapi bagaimana bisa terwujud walau niat sudah 80 %, doapun sudah 15 %, sedang yang tak kalah pentingnya justru usaha malah cuma 5 %. Itupun masih diselingi mampir ke warung ayu…?? Malah banyak ke warung daripada usaha mengais rejeki sekedar untuk beli kecap. Apalagi kalau udah ketemu WA (Warung Ayu) dimana rata-rata simbak penjualnya masih bisa dikatakan (kera Ngalam bilang) kodew e komes, kopi seribu rupiah bisa sampe lima-enam jam baru habis. Itu salah satu kenyataan yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa ditolak. &lt;p&gt; Sebenarnya apa sih inti dari crito ini? Jawabannya tidak ada. Cuma sekedar iseng ngetik sambil dengerin lagu-lagu rock klasik era 80-90an. Bagaimana tidak? Terlahir dari keluarga menengah kesamping pada hari Kamis Pahing malam Jumat Pon tanggal 21 Mei 1981 kurang lebih pukul 18.00 dengan berat dan bentuk yang normal. Karena laki-laki, sang kakek bilang kalau itu adalah rejeki dari yang maha kuasa, jadilah jabang bayi itu diberi nama Rizki. Nah, kalau nama cuma Rizki dipikir kurang afdol maka dibelakang nama Rizki diberi imbuhan Yuwono. Rizki Yuwono. Pas kan? Ketika ditanya apa maksud dibalik pemberian Yuwono, sang ibu cuma bilang “Anakku, suatu saat kelak akan ibu ceritakan padamu arti kata itu. Biarlah untuk sementara menjadi rahasia ibu saja”. &lt;p&gt; Menjadi anak dari orangtua yang kerjanya sebagai pendidik (ayah seorang Kepala Sekolah SMP dan Ibu seorang Guru SMA) tidaklah mudah. Mengapa? Jawabannya sudah bisa dipastikan karena because itu selalu always… Sudah, itu saja. Sangat sederhana. &lt;p&gt; Sebelum crito ini dilanjutkan ada baiknya bagi anda yang kebetulan membaca ini bertanya pada diri anda sendiri. Apakah anda memang benar-benar ingin tahu jalan hidup seorang anak manusia (yang seharusnya) bernama Ken Risky Yuwana, atau hanya sekedar iseng daripada nganggur atau bahkan ngelamun sambil ngupil? &lt;br /&gt; Pertama-tama puja dan puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan YME dan junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Karena atas perkenan-Nya kita bisa bernapas sampai detik ini dan menikmati Blue Film dengan bermacam gayanya. Terima kasih yang tak terhingga tak lupa disampaikan kepada yang terhormat Bapak dan Emak yang secara kompak dan bergotong royong bekerja sama dalam menciptakan si jabang bayi Ken Risky Yuwana ini. Kepada bala kurawa yang sedikit banyak merepotkan tapi asyik-asyik, many thanx my bro… Spesial juga buat someone di somewhere yang akhirnya jadi anyone di anywhere. Terus buat siapa saja yang kiranya lupa belum ditulis, mohon kesediannya untuk meneruskan ucapan terima kasih ini. &lt;p&gt; Terima kasih atas kedatangan, tulisan, pendapat, saran, kritik, dan komentar anda terhadap blog ini. &lt;br /&gt; Tak lupa saya mohon maaf apabila ada tulisan-tulisan yang (mungkin) mengandung SARA, copas, atau hal-hal yang merugikan. Mungkin karena ada sesuatu dan lain hal sehingga tulisan-tulisan disini mirip atau bahkan sudah ada ditempat lain. Untuk itu silahkan anda kirimkan e-mail ke saya atau tulis saja langsung disini. &lt;p&gt; Mungkin bagi anda-anda semua &lt;s&gt;web&lt;/s&gt; blog ini terasa membosankan dan monoton atau gak menarik dan terlalu sederhana. &lt;i&gt;Simple is Safe&lt;/i&gt;, hanya itu yang bisa saya katakan. Kasarane &lt;b&gt;elek yo ben, ngawur yo ben, mati yo wis, seng penting nulis!&lt;/b&gt; &lt;p&gt; Seeeppp.... Ngunu ae wes! Ojo lali dungane rekk...!! &lt;p&gt; Sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih kepada anda-anda semua yang merasa tulisannya saya muat (lagi) disini. &lt;p&gt; Baiklah akan kita mulai crito-nya yang menurut penulis cukup banyak lika-likunya, cukup rumit untuk dipahami bagi sebagian orang awam, cukup menyentuh hati meskipun kadang hal itu agaknya terlalu dipaksakan, cukup manis untuk dikenang, cukup menarik untuk dibaca dan cukup sekian. Terima kasih………… &lt;p&gt; Salam&apos;laikum Salam &lt;p&gt; &lt;!--IMG1--&gt;&lt;a href=&quot;http://www.respati.at.ua/_nw/0/92467.jpg&quot; target=&quot;_blank&quot; title=&quot;Click to view in full size...&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin:0;padding:0;border:0;&quot; src=&quot;http://www.respati.at.ua/_nw/0/s92467.jpg&quot; align=&quot;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--IMG1--&gt;</content:encoded>
			<link>https://respati.at.ua/news/2008-12-13-5</link>
			<dc:creator>respati</dc:creator>
			<guid>https://respati.at.ua/news/2008-12-13-5</guid>
			<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 11:29:00 GMT</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>