Mo, 2017.10.23, 02.56

ngeblogoblogoblogan

Main | Registration | Login
Welcome Guest
RSS
Mini chat
200
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Track Block
Digital Tracker
Respect
free counters Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
Search in Respati
Search in Google
GooTrans
Site friends
  • Alumni STIBA/ABA Malang
  • Caruban Internet Cafe
  • Web Asal Coret
  • Jack's Wordpress
  • Trinil Cyber Media
  • Personal Weblog
  • Javanese Culture
  • Public Photo Albums
  • My Facebook
  • Hanya KiTa
  • Login form
    This is
    IP
    Tag cloud
    sikap JAVA busana jawa hantu dunia Ghost makhluk halus Empu mpu gamelan me nephe malang STIBA java blade pasuruan kris Married mantu pengantin bromo mountain Pandangan Hidup Jawa antique Guitar kuno Music room forever culture east java friend religi adat coffe home House rizki rumah tea ruwatan garden pool name President girlfreind Moslem Girlfriends mommy girl making love Monoteism jawa Fonts memoria Friendship never dies... Babad Babat shadow puppet bharathayudha Kill Bill GAIB ghoib risky rizky darmagandhul Knight skills respati memories gatholoco wayang indonesia merdeka kamasutra seks hiking Budaya kejawen riski qur'an quran surat Heroes 3gp bokep waterfall danang doa mantra qulhu geni keris Apple nama Cute smile Rizki Yuwono Paranormal sisters Pardi Raka Indonesia

    Article


    Main » Articles » Charlatan

    Gunung Lawu
    Berada di ketinggian 3.265 meter dari permukaan laut (dpl), puncak Gunung Lawu yang merupakan bentukan dari sisa kawah tak aktif, menjadi daerah tujuan wisatawan menikmati lembah Tawangmangu yang menawan, Sarangan dengan danau indahnya, birunya Laut Selatan, hingga suguhan sunset dan sunrise.

    Bahkan, desa dan kota-kota di sekitarnya, termasuk Solo, menyuguhkan pesona dan keindahan luar biasa jika dinikmati dari Puncak Lawu. Keindahan kian mencekam saat awan datang menebarkan selimut mayanya. Perbukitan sontak disulap bak pulau kecil berbatas lautan awan. Tak ubahnya, pengunjung seolah berada di atas awan layaknya kahyangan.

    Di balik keindahan yang memukau, Puncak Lawu merupakan sosok angker yang menyimpan misteri. Setidaknya ada tiga tempat yang dikeramatkan, yaitu; Puncak Argo Dalem, Argo Dumilah dan Argo Dumiling.

    Diyakini, Argo Dalem adalah tempat pamoksan (sirna) Prabu Bhrawijaya, sedangkan Arga Dumiling sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon. Sementara Arga Dumilah masih tetap menjadi misteri yang sering dipakai sebagai arena olah batin dan meditasi.

    Keangkeran Puncak Lawu tak lepas dari cerita tentang Raja Majapahit, Prabu Brawijaya. Konon, melihat salah seorang anaknya, Raden Patah, masuk Islam dan mendirikan kerajaan islam di Demak, Sang Prabu yang memeluk agama Budha merasa gelisah. Muncul kegamangan tentang kelangsungan Kerajaan Majapahit.

    Untuk itu, dia bermeditasi, memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Wisik pun datang yang mewartakan adanya kerajaan dan agama baru. Rampung meditasi Sang Prabu berpesan kepada para abdinya mengenai saatnya ia turun dari kejayaan. Sang Prabu juga berbagi wilayah kepada para abdinya, siapa yang menguasai Gunung Lawu dan semua mahluk gaib hingga batas yang ia tentukan. Yakni ke barat hingga Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan, dan ke utara sampai pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu.

    Dan Prabu Barawijaya pun moksa di Argo Dalem, dan abdinya, Sabdopalon moksa di Arga Dumiling. Tinggallah dua abdinya yang lainnya, Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Prabu Brawijaya.

    Selain tiga puncak tadi, masih banyak tempat lain di Gunung Lawu yang diyakini mempunyai nilai spiritual, diantaranya:

    * Sumur Jolotundo -Lokasi yang diyakini Prabu Brawijaya menerima wangsit dalam perjalanan naik ke Puncak Lawu. Gua yang gelap dan curam sedalam kurang lebih 5 meter sering dipakai untuk bertapa.

    * Lumbung Selayur-Di lokasi ini terdapat sumur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan para pengikut Prabu Brawijaya.

    * Pawon Sewu - Terletak pada pertengahan perjalanan pendakian menuju ke Puncak Lawu. Di tempat ini para pengikut Prabu Brawijaya mendirikan dapur untuk memasak makanan.

    * Gua Selarong - Gua ini dimanfaatkan para pengikut Prabu Brawijaya untuk bermalam sekaligus sebagai tempat pemantauan.

    * Sendang Intan - Menurut kepercayaan penduduk setempat, di sendang ini para wisatawan dapat memohon berkah dengan cara minum air langsung ke mulut masing-masing dengan menengadahkan muka. Semakin banyak air yang didapat semakin banyak pula berkah yang diperoleh.

    * Jurang Pangari-Arip -Bila para pendaki sudah mencapai tempat ini, mereka mempunyai harapan untuk dapat mencapai Puncak Lawu. Dari tempat ini para pendaki dapat melihat Kawah Condrodimuko.

    * Sendang Derajad - Menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila para wisatawan mempunyai cita-cita atau niat tertentu dapat terkabul apabila mandi di sendang ini.

    * Kepatihan:Tengen - Lokasi ini merupakan tempat peristirahatan pengikut Prabu Brawijaya.

    * Pasar Diyeng : Di sini para pengikut Prabu Brawijaya mendirikan pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    * Pandean Suroloyo : Di tempat ini para pengikut Prabu Brawijaya membuat pusaka dan persenjataan mereka.

    * Telaga Kuning : Telaga ini merupakan tempat mandi putra-putri pengikut Prabu Brawijaya.

    * Argo Fruso: Di tempat ini Raja Brawijaya menyimpan pusaka-pusakanya.

    * Kayangan: Tempat ini merupakan taman yang sangat indah tempat istirahat sambil menikmati pemandangan alam yang indah.

    * Selo Pundutan : Merupakan tempat untuk latihan olah kanuragan pengkiut Prabu Brawijaya dan masih dipergunakan sampai sekarang oleh para pendaki puncak Lawu.

    Karena keangkerannya, siapa pun yang hendak pergi ke puncaknya diharap mematuhi 'aturan'. Yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

    Menurut penduduk setempat, beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar, diantaranya jangan mendaki jika jumlahnya ganjil, karena 'penguasa' gunung akan menggenapkannya dengan mengambil salah satu dari mereka. Pantangan lain, jangan pernah sekali-kali menyombongkan diri, misalkan dengan angkuh mengatakan bahwa mendaki Gunung Lawu tidak sulit dan sebagainya, karena akan mengalami celaka.

    Bagaimana bisa mencapai Puncak Gunung Lawu? Pertama siapkan diri dan stamina, serta kenalilah medan yang bakal Anda rambah. Pasalnya, tak mudah mencapai puncaknya, karena beban pendakian sepanjang 9 km cukup menguras tenaga dengan jangkauan tempuh selama 8 jam.

    * Hutan pinus dan Akasia menjadi pemandangan berikutnya. Disusul pepohonan rendah dan hamparan padang rumput. Mencapai ketinggian 3.200 meter dpl, mendekati puncak, beberapa kawah kecil didasar jurang yang curam mulai terlihat. Inilah salah satu keistimewaan Gunung Lawu.

    * Pendakian berakhir di Puncak Argo Dumilah yang berada di ketinggian 3.265 meter dpl. Pendakian juga bisa dimulai dari Desa Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Di tempat ini ada pos penjagaan, dimana pengunjung harus lapor terlebih dahulu. Dari Pos penjagaan, jalur agak landai dan batu tersusun rapi. Udara terasa dingin, sepanjang jalan tampak pemandangan hutan yang menyegarkan mata, dan kera-kera berterbangan dari ranting pohon. Sebelum sampai di Pos I (Taman Sari Bawah, 2.300 meter dpl) ada sumber air jernih yang dikenal dengan sendang panguripan.

    * Menuju Pos II (Taman Sari Atas, 2.470 meter dpl), terasa mulai sulit. Kondisi jalan yang berbatu, tak tersusun rapi. Namun di antara Pos I dan Pos II akan ada pos bayangan, yang bisa dipakai untuk istirahat.

    * Pendakian menuju Pos III (Pos Penggik, 2.760 meter dpl) lebih sulit lagi. Kondisi jalan yang berbatu dan kecuraman yang cukup tinggi membuat kaki cepat letih.

    * Menuju Pos IV (Cokro Suryo, 3.025 meter dpl), kondisinya sangat curam. Di Pos IV pengunjung dapat melihat indahnya kota solo.

    * Hati-hati di Pos V, karena sisi kanan jurang yang cukup dalam. Di tengah perjalanan ke Pos V akan dijumpai sebuah sumur yang di kenal Sumur Jalatunda. Perjalanan mulai landai hingga menuju puncak. Sebelum menyentuh puncak sebaiknya istirahat di Sendang Derajat.

    * Saat menuju puncak, ada persimpangan, ke kanan menuju Puncak Argo Dalem (3.170 meter dpl), ke kiri Puncak Argo Dumilah (3265 meter dpl). Perjalan ke puncak Argo Dumilah cukup menanjak. Sebelum sampai di puncak terdapat gubuk. Bawalah tenda dump karena badai di Gunung Lawu cukup besar jika cuaca sedang buruk. (*)

    Banyak peninggalan sejarah di kawasan Gunung Lawu, yang dijadikan sebagai obyek wisata dan sekaligus sebagai lokasi untuk tujuan spiritual. Di lereng gunung ini ada dua candi. Kedua candi itu sudah ada sebelum era Mataram Kuno, yaitu Candi Sukuh dan Candi Cetho.

    Candi Sukuh berada di Desa Sukuh, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, merupakan situs purbakala yang menyimpan gambaran dalam bentuk relief-relief tentang kehidupan makhluk hidup, mulai dari kehidupan di alam rahim hingga alam nyata. Jika cuaca cerah, pemandangan terasa indah menawan. Di kejauhan, dari hamparan ngarai dan lembah, hamparan Bendungan Gajah Mungkur di Wonogiri, tampak melatarbelakangi.

    Sedangkan Candi Ceto berada di Desa Ceto, menawarkan keindahan religi yang tak kalah bagusnya. Rumah-rumah cungkup yang berjajar dengan ketinggian berbeda, menyimpan gambaran kehidupan manusia dari sebab kejadian (asal) hingga gambaran tujuan akhir kehidupan; nirwana. Tingkat ketinggian terakhir situs ini sebagai kedudukan candi, yang dihitung dari gerbang masuk, posisi tertinggi ini pada posisi tingkat ke tujuh.

    Karena lokasi keduanya yang menantang di dataran tinggi, selama ini jarang masyarakat datang untuk sekadar rekreasi tanpa kepentingan spiritual menyertainya.

    Category: Charlatan | Added by: respati (2008.12.14) | Author: Kean Risky Yuwana
    Views: 1583 | Rating: 0.0/0
    Total comments: 0
    Only registered users can add comments.
    [ Registration | Login ]
    Copyright Alamalam © 2017